Sekitar setengah jam dengan berjalan kaki, para wisatawan dapat menjumpai Batu Bolong di pantai ini. Ini adalah sebuah pura yang dibangun di atas karang yang terletak di tepi pantai. Menurut legenda masyarakat setempat dahulu kala sering diadakan pengorbanan seorang perawan untuk dimakankan kepada ikan hiu di tempat ini. Legenda lain mengatakan dahulu banyak para wanita yang menerjunkan diri dari tempat ini ke laut karena patah hati. Dari tempat ini juga terlihat Gunung Agung di Pulau Bali.

Pura batu bolong merupakan sebuah pura kecil yang terdapat di daerah Senggigi, Lombok. Apabila anda melakukan perjalanan darat dari Mataram menuju pelabuhan Bangsal (tempat penyebrangan reguler ke Gili Trawangan) melalui jalur pantai, anda akan melewati pura ini. Pengunjung diperbolehkan masuk dengan membayar Rp.10.000.

Seperti halnya pura-pura yang yang ada di pulau Bali, pura ini juga mengharuskan pengunjung untuk menggunakan kain berwarna kuning di pinggang selama berada di dalam area pura, juga menjaga kesopanan karena sejatinya pura merupakan tempat ibadah keagamaan. Selain itu terdapat peraturan bahwa wanita yang sedang berhalangan dilarang memasuki area pura.
Pura cantik yang ada di tepi pantai tak hanya bisa ditemukan di Bali. Lombok pun punya Pura Batu Bolong yang lokasinya berada di pinggir sebuah pantai di Lombok Barat, NTB. Tak hanya cantik, pura ini juga punya batu bolong yang unik!

Nama Pura Batu Bolong itu sendiri sesuai dengan sebuh batu besar dengan lubang di tengahnya yang terdapat di pura tersebut. Salah satu pura yang terdapat di dalam area Pura Batu Bolong bernama pura Ratu Gede Mas Mecaling, letaknya di depan, dekat dengan pintu masuk pura.

Karya arsitektur Pura Batu Bolong-Lombok in boleh dikata muncul akibat kebutuhan manusia (umat Hindu) akan ruang peribadatan yang dapat mewadahi seluruh aktivitas spiritual religiusnya. Dengan demikian, peran kreasi manusia di tempat in dan kondisi alam sekitar pantai Senggigi akan senantiasa mewarnai dan membantu menambah vibrasi kesucian pura itu sendiri.Pura ini juga diyakini oleh masyarakat umat Hindu setempat dapat memancarkan spirit atau getaran rohani yang damai, teduh dan khusuk. “Mengalami” ruang dan massa arsitektur pura ini mengantarkan orang lebih mamahami “j arak”, “waktu” dan “spirit”. Kegiatan “mengalami” yang dimaksud saat berada didalam pura ini adalah di mana orang bersentuhan langsung dengan realitas. Orang dapat merasakan ruang, permukaan massa dan benda-benda alam pantai serta “spirit” tempat dengan segenap indera yang dimiliki.
Bagaimana pun, Pura Batu Bolong yang terletak di Lombok in memiliki makna tradisi yang berkaitan dengan kehidupan

budaya masyarakat Hindu di Lombok yang “diwariskan” oleh budaya Bali. Selain secara histonis-geografis punya kedekatan, masyarakat umat Hindu setempat tetap masih kuat melekatkan makna tradisi didalamnya. Secara prinsip punya kemiripan dengan makna tradisi yang ada Bali. Hal ini terlihat dari jenis-jenis pelinggih yang dibangun di pura itu.
Dengan tetap berpijak pada desa-kala-patra dan aspek ekologisnya, tentu ada bagian bagian yang mengalami penyesuaian atau transformasi. Bentuk pintu gerbang yang tidak terlalu besar dan tinggi, panggunaan bahan yang diperoleh dan lingkungan atau alam setempat, bentuk pepalihan yang dikembangkan serta penempatan dan jenis patung yang ada, boleh dikata menunjukkan hal itu.